Sabtu, 01 September 2018

Learning How to Learn, How am I doing it? NHW#5 MIIP batch 6

Sabtu, September 01, 2018 0 Comments




Menginjak pekan ke#5, kelas matrikulasi ibu profesional kali ini mengajak kita berdiskusi belajar bagaimana cara belajar. Nah untuk tiba pada bagian ini,  mari mereview sejenak apa yang telah kita dapatkan pada NHW#1-NHW#5.
 Dan kita akan kembali menjawab pertanyaan berikut ini?

Who am I ? Saya adalah ibu pembelajar (NHW#1)

What am I doing ? (NHW#2)

Why am I here ? purpose of my life ada pada NHW#3 yaitu membangun peradaban dari dalam rumah

Where do I start ? dari rumah sendiri, dari keluarga sendiri (NHW#4)

When do I start ? Sejak memiliki keluarga, menikah, hingga akhir hayat (NHW#4)

How am I doing it ? dengan belajar cara belajar (NHW#5)


Nah, dengan demikian, saat inilah saat melakukan tahapan HOW am I doing it?

1.       Belajar bagaimana cara belajar
Belajar adalah proses seumur hidup. Sejak kita lahir di dunia, kita memiliki firah belajar.  Apabila kita mengamati perkembangan bayi yang baru lahir mereka tidak akan pernah berputus asa dan berusaha untuk belajar dan berlatih, mulai dari tidur tengkurap, merankak, duduk, berdiri lalu berjalan. Tak sampai di situ, para anak anak adalah peniru ulung, mereka semua cepat sekali belajar meniru apa yang mereka lihat. Selanjutnya mereka juga peneliti yang handal, jiwa keingintahuan mereka cukup tinggi. Begitulah seterusnya sampaimereka akan masuk pada masa masa sekolah. Masa menerima pendidikan baik di dalam rumah maupun di tempat lain, dimanapun mereka bisa belajar. Lantas, kita ingat betul bahkan setelah lulus kuliah sekalipun kita masih terus dituntut belajar. Bekajar bagaimana bersikap di masyarakat. Ketika telah menikah kita harus senantiasa belajar memantaskan diri sebagai pasangan yang baik bagi suami kita, belajar bagaimana menjadi manajer keluarga yang handal, dan belajar bagaimana ibu yang baik bagi anak anak kita. Anak anak yang baik, yang shaleh dan shaleha tentunya memiliki orangtua yang baik dan saleh juga.

“Setiap anak terlahir hebat, kitalah, orangtuanya yang harus memantaskan diri, agar layak mendapatkan anak anak hebat” Quotes Ibu Profesional

Jadi belajar adalah proses seumur hidup kita, untuk senantiasa memantaskan diri kita karena pada dasarnya setiap manusia yang fitrah belajarna tidak terusik akan terus belajar. Nah, sebagai ibu  yang memiliki tugas sebagai pendidk utama bagi anak anaknya, all ummu madrasatul ula, kita harus tahu benar bagaimana cara belajar itu sendiri. Baik cara belajar bagi kita sebagai seorang ibu/istri maupun sebagai seorang perempuan, cara belajar keluarga kita terhadap lingkungan sekitar dan bagaimana cara belajar anak anak kita. Ya! Belajar bagaimana cara belajar.

Cara belajar seseorang ini berbeda beda. De potter dan hernaccki (2000) dalam bukunya Quantum Learning  memaparkan tiga cara belajar seseoarang yakni “visual-auditori dan kinestetik” kita setiap orang akan menggunakan ketiga cara belajar ini pada satu masa tertentu, namun setiap orang akan memiliki kecenderungan pada salah satu dari ketiganya. Visual, yaitu kekuatan belajar seseorangberdasarkan indera penglihatannya; Auditori, cara belajar seseorang berfokus dengan alat pendengarannya. Kinestetik, kekuatan seseorang yang memiliki gaya belajar seperti ini mirip dengan gaya belajar visual yaitu melalui penglihatannya, cara belajar orang kinestetik ini yaitu lebih melibatkan fisisk belajar sambil bereksperimen; membuat model atau media media belajar, bermain peran, membuat permainan mind mappping, belajar sambil berjalan

Nah, gaya belajar seseorang bisa merupakan kombinasi dua atau justru ketiga tiganya. Saya adalah seorang audio-visual, saya suka membaca, tapi juga suka mendiskusikan apa yang saya pelajari dengan orang lain, adakalanya saya membutuhkan waktu ang tenang unuk belajar namun ada kalanya justru dengan mendengar musik akan tampak lebih mengasyikkan. Dengan mengetahui gaya belajar saya dan dimana kekuatan saya akan mudah dalam mempelajari sesuatu. Berbeda dengan sofia, putri kecil saya saat ini, dia cenderung kinestetik, dia tidak suka terlalu lama melihat buku bergambar, dia lebih suka mendengar sambil berjalan atau melakukan aktifitas lainnya. Kegemarannya juga mencari tahu hal hal baru seperti memasukkan koin ke dalam celengan, dan mengeksplorasi tubuhnya untuk terus bergerak dengan berjalan cepat, bermain petak umpet, memanjat jendela kamar.
Bagaimana saya akan memahami cara belajar anak anak? Metode yang akan saya gunakan dalam hal ini adalah:
Melalui aktifitas E – O – WL – W

Yakni Engage, Observe, Watch listen, dan  Writing
Engage, yaitu mengikutsertakan, dalam artian ini saya harus terlibat aktif secara penuh dan utuh dalam membersamai anak anak. Bukan hanya menemani tapi juga membersamai
Observe yaitu melakukan pengamatan pada anak dengan aktifitas kegiatan belajar dan bermain setiap hari
Watch dan Listen, menjadi pendengar dengan seksama, lebih banyak mendengar tidak menghakimi, memerhatikan dan melihat dengan lebih dekat
Write, menuliskan apa apa yang telah kia temukan pada anak, pada kita, menulis mengikat makna, sehingga kita akan tahu mana yang baik, mana yang buruk, mana yang bisa diamil, mana yang harus di buang

Jika kamu melihat anakmu berbuat baik, maka puji dan catatlah. Jika anakmu berbuat buruk maka tegur dan janganlah kalian mencatatnya (UMAR BIN KHATAB)

Selain memahami gaya belajar kita juga harus paham bagaimana belajar itu dan apa yang sejatinya harus kita pelajari dan tujuan apa yang akan kita capai dalam pembelajaran ini 

 “Pendidikan sejati seharusnya bukan sekedar menumpuk fakta dan hafalan ataupun sebatas pemahaman (understanding). Pendidikan sejati juga bukan tentang terlalu banyak mengajar dan menjejalkan (outside in) .Tujuan Pendidikan sejati adalah membangun akhlak mulia sebagai buah dari resultansi tumbuh subur dan bangkitnya (inside out) semua aspek fitrah dengan menghantarkan generasi menjuju peran peradabannya” (Harry Santoso, Fitrah Based Education)


“Mulailah selalu dari sisi cahaya anak anak kita, bukan sisi gelapnya. Karena jika cahaya telah melebar menerangi semua sisi maka kegelapan menjadi tidak relevan, bukankah kegelapan hanyaa ada ketika cahaya tiada?”

“Deraskan maknamu, bukan tinggikan Suara. Karena hujanlah yang menumbuhkan bunga bunga, bukan petir atau guruhnya”

 Poin yang bisa di dapat dari uraian di atas adalah cara belajar adalah:
  1. Bukan menumpuk fakta
  2. Tidak menggegas hafalan
  3. Bukan sebatas pemahaman
  4. Mempelajari apa yang kita suka, bukan apa yang tidak suka

“every body is genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its a whole live beliefing that is stupid- Albert Einstein


  1. Desain Pembelajaran
Desain pembelajaran menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut:
Suatu proses desain dan sistematis untuk menciptakan pembelajaran yang lebi efektif dan efisien serta membuat kegiatan pembelajaran lebih mudah, yang didasarkan pada apa yang kita ketahui mengenai teori pembelajaran, teknologi informasi, sistematika analisis, penelitian dalam bisang pendidikan, dan metode metode manajemen. (Moisson ross dan Kemp. 2007)
Gentry (1994): Desain pembelajaran adalah sutu proses yang merumuskan dan menentukan tujuan pembelajaran, strategi, teknik, dan media agar tujuan umum tercapai.

Ruang lingkup desain pembelajaran, meliputi:
1.       Pembelajaran (pihak yang menjad fokus) yang perlu diketahui meliputi karakteristik mereka, kemampuan dan prasarat
2.       Tujuan pembelajaran
3.       Analisis pembelajaran
4.       Strategi pembelajaran
5.       Bahan ajar
6.       Penilaian belajar
(dari :www.langkahpembelajaran.com/2017)

Model model desain pembelajaran banyak sekali, secara umum diklasifikasikan ke dalam model berorientasi kelas, berorientasi pada sistem, berorientasi produk, model berorientasi prosedural dan model melingkar. Saya memutuskan akan menggunakan model ADDIE pada desain pembelajaran keluarga kami


MODEL ADDIE, model ADDIE lebih bersifat generik, dikembangkan oleh Reiser dan Mollanda. Salah satu yang ditekankan pada metode ini adalah merinci masalah dan mencari penyebabnya.  Selain itu ada artikel yang membuat saya tergelitik yaitu dari Connie Malamed dari the learningcoach.com berjudul How to use design thinking in learning experience design, yang menjelaskan bahwa metode ADDIE menggunakan pendekatan system thinking approach.

a.       Analisa. Tahap analisa merupakan suatu proses mendefnisikan apa yang akan dipelajari peserta (WHAT), melakukan analisa kebutuhan dan mengidentifikasi masalah (WHY)
b.      Desain perencanaan, Mentukan media yang tepat (where, when, who)
c.       Development. Yaitu proses mewujudkan blue print menjadi kenyataan (HOW)
d.      Implementation. Langkah nyata untuk menerapkan sistem pembelajaran
e.      Evaluation. Yaitu proses melihat apakah sistem yang sedang dibangun berhasil. Evaluasi ini akan dilakukan secara berkala. Dan sistem evaluasi ini bisa terjadi di setiap keempat tahapan di atas.

Berdasarkan pemaparan teori di atas, maka saya merumuskan desain pembelajaran yang akan saya  lakukan sebagai berikut:
1.       Tahap analisa. Yakni memenentukan apa yang akan saya pelajari dan mengidentifikasi masalah, mengapa saya harus mempelajari hal tersebut serta kebutuhan apa tepatnya sehingga saya mempelajari hal tersebut. Sesuai dengan yang saya lakukan pada NHW#1 maka,
WHAT : Ilmu yang akan saya pelajari adalah : Ilmu Parenting dan Pendidikan Keluarga Berbasis Fitrah serta entrepreneur
WHY : ilmu tersebut akan membantu saya mencapai misi spesifik hidup saya menjadi individu yang senantiasa memberikan manfaat bagi sekelilingnya, sebagai istri menjadi partner menuju misi keluarga bahagia dunia akhirat dan sebagai ibu madrasah pertama mengantarkan anak anak menjemput perannya sesuai dengan fitrahnya

2.       Selanjutnya adalah merumuskan dan menentukan media pembelajaran yang ingin dilakukan, media meliputi waktu (when), siapa (who) dan alat pembelajaran (where)
When : kapan saya akan belajar, karena ilmu yang saya ambil adalah tema keseharian maka saya menurut saya saya bisa belajar kapan saja, baik di rumah ketika membersamai suami dan aanak anak maupun saat bermasyarakat
Who : seperti yang diajarkan di IIP, semua murid semua guru, maka saya bisa belajar dari siapa saja pun demikian dari anak anak, mereka adalah madrasah kecil dalam hidup saya
Where (sumber dan media belajar):
.Sumber belajar
Banyak cara mengakses ilmu pada zaman dengan kepesatan dan kemampuan teknologi saat ini, hal ini bisa melallui:
literasi : buku bacaan, jurnal ilmiah, artikel, dsb
online: Kuliah online, webinar, dsb
Komunitas: KIP, HeBAT, Rumah Inspirasi, Sekolah jadi orangtua dll
Expertise : berdiskusi dengan orang orang yang memiliki kemampuan atau ahli dibidangnya seperti mentor, guru, fasilitator, mentor dsb
Tour the talent
Media belajar :
Media belajar yang akan saya gunakan di antaranya adalah:
Membaca, mendengarkan, melihat diagram, melihat video, melihat demonstrasi, terlibat dalam diskusi aktif, mempraktikkan, menyajikan, bermain peran, melakukan simulasi dan mengerjakan hal yang nyata.
Media di atas menurut Edgar Dale memiliki tingkat keterlibatan yang berbeda beda dan memberikan tingkat pemahaman yang berbeda beda pula. Semakin banyak tingkat keterlibatan maka akan semakin banyak tingkat pemahaman
                    
3.       Development (HOW). Menentukan model pembelajaran
Selanjutnya, setelah melakukan analisa dan mengkaji ilmu yang dipelajari serta mengidentifikasi sumber belajar, waktu dan media pembelajaran. Maka yang harus dilaksanakan selanjutnya adalah bagaimana mengembangkan model pembelajaran tersebut.  

Pola model pembelajaran ini atau ruanglingkupnya terdiri dari, Pendekatan Pembelajaran, Strategi Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Teknik & Taktik Belajar. Nah, mari kita urai satu persatu:

Pendekatan pembelajaran: yakni sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya proses yang sangat umum, didalamnya mewadahi, menginspirasi metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu. Terdapat dua jenis pendekatan yakni, pendekatan berorientasi pada pembelajar dan pendekatan berorientasi pada teacher. Dalam hal ini kami memilih pendekatan berorientasi pada pembelajar.



Strategi Pembelajaran.  Pembelajaran dapat dikelompokkan menjadi exposition- discovery learning dan group – individua learning. Strategi pembelajaran merupakan perencanaan berisi keputusan ang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Nah, strategi yang kami gunakan dalam desain pembelajaran kami adalah:


1.       Meninggikan gunung bukan meratakan lembah
2.       Man Jadda wa jadda, man shabara zhafira, man saara ala darbi washala (siapa yang bersungguh akan berhasil, siapa yang sabar akan beruntung dan siapa yang berjalan dijalannya akan sampai tuuan)

Metode Pembelajaran, yaitu cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode pembelajaran yang akan kami gunakan mengadopsi dari kerucut  pengalaman Edgar Dale (cone of experience Edgar Dale)

cone of learning example: wikipedia :Jeffrey Anderson (elearningindustry.com)

Teknik dan Taktik pembelajaran.  Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan dalam teknik dan taktik pembelajaran. Dimana teknik dan pembelajaran ini sangat unik tergantug dari masing masing pembelajar, maka saya pun akan menyesuaikan pada diri saya dan anak saya dalam menentukan taktik dan teknik pembelajar.
Misalnya, menginjak usia seperti sekarang ini, aktifitas sofia lebih berfokus pada aktifitas fisik, sehingga semua kegiatan pembelajarannya bisa menggunakan taktik dan teknik yang berientasi pada aktifitas fisik. Seperti berjalan jalan sambil bernyanyi mengenai sifat teladan rasulullah atau sifat hewan hewan dalam alquran. Selain itu sofia suka sekali mengeksplorasi apa saja, karena curiousity nya tinggi sehingga kami bisa membuat pembelajaran dengan bermain peek a bu dan membongkar prize di dalam kotak.

4. Implementasi
 Tahap implementasi dari  apa yang sudah kita rencanakan pada model pembelajaran sebelumnya. 



5. Evaluasi
 Tahap terakhir dalam proses desain pembelajaran adalah evaluasi. Evaluasi akan selalu dilakukan pada setiap proses, bukan saja di akhir proses, sehingga apabila ada sesuatu yang tidak sesuai nisa langsung di rubah sehingga sistem desain pembelajaan yang dibua ini adalah fleksibel
Bagaimana melakukan evaluasi ini?
1.       Menggunakan checklist indikator, apakah yang kita lakukan telah sesuai dengan checklist indikator. Sifat dari checklist indikator ini juga sangat fleksibel. Karena bisa berubah berdasarkan hasil ealuasi
2.       Berdiskusi langsung dengan partener dalam hal ini adalah anak dan suami, apakah dalam pelaksanaan proses pembelajaran ni telah berhasil ataukah ada yang perlu dibenahi
3.       Melakukan reflek koreksi diri, dan membuat indikator tahunan apakah ada peningkatandari waktu ke waktu
4.       Membuat target pencapaian.

Taraaa..... demikian NHW #5 ini dibuat, membatnya cukup slit namun saya yakin menjalankan juga perlu waktu dan keistiqomahan yang luar biasa.

Sumber bacaan:
-          Anderson, Jeffery. cone of learning example, wikipedia.elearningindustry.com
-          De potter, Bobbi.2000. QL (CETAKAN vii) Bandung:Mizan Media Utama
-          Materi perkuliahan #1,#2,#3,#4 Kelas Matrikulasi IIP batch 6
-          Malamed, Connie. 2018. How to Use Design Thinking in Learning Experience Design. Thelearningcoach.com
-      Ruang Berkarya Ibu-IIP. Coretan Penaku Sebuah Warisan Untukmu. 2017.Malang: Penerbit Aryoko Indonesia 
-      Santoso, Harry, Fitrah Based Education ver.3. 2017.Bekasi :Yayasan Cahaya Mutiara Timur
-          Sari, Bintari kartika. Desain Pembelajaran model ADDIE dan implementasinya dengan teknik JIGSAW dalam Prosiding seminar nasional pendidikan TEMA : DESAIN PEMBELAJARAN DI ERA ASEAN ECONOMIC COMMUNITY UNTUK PENDIDIKAN INDONESIA PERKEMAJUAN. UMSIDA 2015)
-          Sudrajat.Akhmad. Pengertian, pendekatan, strategi, metode, teknik, taktik dan Model Pembelajaran. 2008.akhmadsudrajat.wordpress.com(PDF)













Minggu, 26 Agustus 2018

Mendidik dengan Kekuatan Fitrah

Minggu, Agustus 26, 2018 0 Comments




Anak adalah tamu istimewa yang kita undang untuk hadir di kehidupan kita atas ijin Tuhan (The secret of enlightening parenting)

Anak, adalah tamu istimewa yang diamanahkan dari sang maha pencipta untuk kita. Karena itu sudah selayaknya kita dengan sungguh sungguh menerima dan menjalankan amanah ini. Tugas mendidik adalah kewajiban bagi orangtua bukan sebuah pilihan. Allah menginginkan kita, orangtua, sebagai arsitek peradaban bukan dokter, pun sebagai desainer dan bukan sebagai seorang terapis, maksudnya adalah dalam mendidik anak anak kita harus fokus dalam membangun kebaikan, bukan menangisi keburukan.  Mendidik anak anak juga harus selalu mengedepankan opini bahwa anak anak ini adalah subjek dan bukan objek. Allah telah menginstal pada setiap anak kekuatan fitrah dan bagaimana nantinya peran mereka dimuka bumi ini pun telah diinstall oleh Allah. Tugas kita sebagai orang tua adalah menemani, mendampingi serta menumbuhkan fitrah itu sendiri. Mendidik dengan kekuatan fitrah  bukan hanya mendidik untuk anak anak kita saja kita saja tapi juga menguatkan fitrah keayah ibuan yan kita miliki. Raise your child, raise your selves

Sebagaimana seorang ibu, ia memiliki fitrah keibuan. Seorang ibu harus paham pada dirinya sendiri untuk apa dia diciptakan, jika kita sudah menemukan fitrah kita tersebut ita akan legowodalam mendidik anak anak nya, tidak memaksakan kehendak kita kepada anak anak kita, pun tidak merusak blue print dari Allah untuk anak anak kita

a.       Dalam mendidik anak, salah satu yang harus di tentukan sebagai langkah awal adalah menentukan jurusan ilmu di universitas kehidupan. Kira kira apa yang akan kita kuasai, kita tekuni dengan niat ikhlas dan penuh semangat untuk mempelajari ilmu tersebut

=====>>
Alhamdulillah saya semakin mantap untuk menguasai ilmu parenting dan home education. Dan setelah saya renungkan saya akan menambah menguasai ilmu publik speaking, karena saya yakin dua ilmu tersebut akan mendukung satu sama lain.

b.      Nah, setelah menentukan apa ilu yang akan kita geluti dalam ilmu kehidupan kita akan membuat checklist harian. Checklist ini sebagai sarana diri kita untuk senantiasa terpicu “memantaskan diri”  setiap saat.  Latih dengan keras diri anda, agar lingkungan sekitar menjadi  lunak terhadap diri kita

====>>
Nah, ini dia!!! Sampai sekarang saya belom konsisten menjalankan checklist yang saya buat sendiri. Memang sepertinya harus dipaksa agar lama lama menjadi kebiasaan, rasanya so haaard... komiten harus lebih kuat, be strong and Yes! Aku bisa, aku bisa....

c.       Pada tahap selanjutnya, kita memahami bahwa membangun peradaban berasal dari dalam rumah. Mendidik seorang anak adalah menjadi bagian dari mendidik sebuah generasi . Dalam mendidik anak haruslah ada kesamaan visi misi dan kerja sama yang baik dalam tim pencetak generasi, yakni ayah, ibu, dan anak anak. Karena itu perlu kembali dipahami hubungan kedua insan bernama ayah dan ibu, perlu perenungan kembali untuk apa kira kira dahulu dipertemukan. Kira kira misi apa yang akan Allah amanahkan kepada tim keluarga ini berada di tengah alam semesta. Semuanya tidak ada kebetulan dan semuanya telah di atur oleh allah swt
==== >>
Misi hidup:
Menjadi individu yang senantiasa memberikan manfaat bagi sekelilingnya, sebagai istri menjadi partner menuju misi keluarga bahagia dunia akhirat dan sebagai ibu madrasah pertama mengantarkan anak anak menjemput perannya sesuai dengan fitrahnya

Bidang yang ingin dipelajari : adalah ibu profesional dan mom preneur

wanna  be ibu profesional adalah keinginan terbesar saya, sehingga saya sadari bahwa ilmu yang harus saya kuasai adalah ilmu ibu profesional yang meliputi ilmu ibu profesional dan ilmu parenting education

Saya juga ingin sekali menjadi bunda produktif, sehingga saya akan berusaha menekun ilmu yang berkaitan dengan mompreneur seperti halnya adab dan fikih muamalat dan manajemen marketing

d.      Setelah menemukan visi dan peran kita dalam hidup ini, maka langkah selanjutnya adalah menyusun  ilmu ilmu apa saja yang diperlukan dalam menjalankan misi hidup tersebut

==== >>
Ilmu ibu profesional

1)       ilmu bunda sayang, yaitu ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak anaknya;
2)       ilmu bunda cekatan, yaitu ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul;
3)      Ilmu bunda produktif, yaitu ilmu untuk meningkakan rasa percaya diri ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya dimuka bumi ini. Sehingga ibu bisa produktif dengan bahagia tanpa harus meninggakan anak dan keluarganya
4)      Ilmu bunda shaleha, yaitu ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat sehingga keberadaannya bisa bermanfaat bagi banyak orang

Ilmu parenting  education                              
Fitrah Based  Education : yaitu suatu ilmu yang mempelajari bagaimana mendidik anak anak sesuai dengan fitrahnya.
 ilmu mompreneur
ilmu mompreneur akan saya gunakan nantinya ketika saya telah sampai tahapan dan siap menjadi bunda produktif, ilmu mengenai mompreneur ini sangat luas diantaranya adalah adab dan fikih muamalat, manajemen marketing seperti halnya bagaimana menentukan sasaran dan target, mengenali pangsa  pasar, memanajemen pasar, dan membangun branding
e.      Setelah menentukan ilmu apa saja yang akan dipelajari, maka saatnya menetapkan milestone untuk memandu setiap perjalanan hidup dalam  menjalankan misi hidup
===== >>

KM 0 – KM 1 (tahun 2018 -2019) :
Ilmu ibu profesional                     : masuk di kelas matrikulasi iip dan berusaha untuk lulus kelas matrikulasi selanjutnya bisa masuk dan belajar d kelas bunda sayang
Ilmu parenting                             : gabung dalam komunitas HebAT, mempelajari fitrah  based education, membuat framework acivity anak usia 1-2 tahun dan belajar mengenai ilmu yang menunjang fitrah based education anak usia 1-2 tahun, belajar tentang montessori
Ilmu mompreneur                         : mempelajari adab dan fikih muamalat, management gadget
KM 1 – KM 2 (tahun 2020) :
Ilmu ibu profesional               : mempelajari ilmu bunda cekatan,  ilmu seputar memasak makanan sehat, KONMARI method
Ilmu parenting                       : gabung dalam komunitas HebAT, mempelajari fitrah  based education, membuat framework acivity anak usia 2 tahun dan belajar mengenai ilmu yang menunjang fitrah based education anak usia 3 tahun, mendalami montessori
Ilmu mompreneur                   : mempelajari adab dan fikih muamalat, manajamen pasar dan sasaran serta mengelola bisnis online
KM 2 – KM 3 (tahun 2021):
Ilmu ibu profesional                 : mempelajari ilmu bunda produktif dan ilmu publik speaking
Ilmu parenting                         : gabung dalam komunitas HebAT, mempelajari fitrah  based education, membuat framework acivity anak usia 4 tahun dan belajar mengenai ilmu yang menunjang fitrah based education anak usia 3 tahun, mengaplikasikan dan mendalami montessori
Ilmu mompreneur                      : mempelajari bagaimana membangun dan mengembangkan branded
KM 3 – KM 4 (tahun 2022) :
Ilmu ibu profesional                   : mempelajari ilmu bunda shaleha dan mempelajari public speaking
Ilmu parenting                           : gabung dalam komunitas HebAT, mempelajari fitrah  based education, membuat framework acivity anak usia 4 tahun dan belajar mengenai ilmu yang menunjang fitrah based education anak usia 4 tahun
Ilmu mompreneur                      : mempelajari bagaimana menjadikan usaha sebagai ladang kemanfaatan bagi banyak orang
f.        Melakukan kembali checklist yang telah dibuat di NHW#2
Pada NHW 2 saya cantumkan untuk membaca buku mengenai parenting setiap harinya serta rutin datang ke majelis ilmu setiap pekannya, maka untuk kedepannya akan dilakukan lagi secara rinci apa apa saja yang perlu dilaksanakan dan dilakukan dan majelis ilmu apa saja yang akan didatangi


LAKUKAN, LAKUKAN, LAKUKAN, LAKUKAN
Bismillahirrohmanirrohim.... insya Allah saya SIAP melakukan, saya BISA saya harus berpegang teguh pada KOMITMEN yang saya buat


 Sumber Bacaan :
Materi #2 KELAS MIIP, Menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga
Materi #3 Kelas MIIP, Membangun Peradaban dari dalam Rumah
Materi#4 Kelas MIIP, mendidik dengan kekuatan Fitrah
Santoso,Harry.Fitrah Based Education.Vol.03
                

Minggu, 19 Agustus 2018

Membangun Peradaban dari dalam Rumah

Minggu, Agustus 19, 2018 0 Comments


NHW ke -3 Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional batch 6
Rumah adalah pintu gerbang peradaban. Dalam bukunya Fitrah Based Education, Harry Santosa menyatakan bahwa peran rumah adalah mendidik dan membuat produktif masing masing anggotanya.Untuk mencapai hal tersebut ada beberapa hal yang harus dilalui sebagai tahapan tahapannya. Nah, Nice Homework kali ini adalah membuat tahapan awal dalam membangun peradapan dari dalam rumah. Tugas yang pertama, temanya adalah jatuh cinta kembali kepada pasangan dan membuat surat cinta untuk suami, hmmm kira kira apa ya isinya... mari merenung dulu...

Jatuh cinta kembali pada suami
Setelah menikah, tentu saja saya bertanya tanya untuk apa dipertemukan dia si cinta dan bersama mengarungi samudera rumah tangga, misi spesifik apa yang Alloh berikan kepada kami. Rasanya jadi kembali mengingat pertama kali bertemu dengan suami, pertemuan yang sangat singkat, yang kuingat sekali saat itu hanya makanan kesukaannhanya yaitu telor dadar dengan cabe dan seledri diiris tipis, hahahaha,,,karena ini makanan yang saya juga suka. Pastinya kami terlahir seakan dari dua benua yang berbeda, wkwkw karena saya orang jawa tulen dan dia orang sunda tulen, hooo

Tidak mudah memang, pada awalnya menjalani semua ini, dari cara berkomunikasi saja sudah berbeda, makanan yang biasa dimakan sehari hari, pola budaya, dan yang paling penting adalah innerchild kita masing masing. Alhamdulillah ingat banget bahwa suami walaupun kadang terasa sekali manjanya dan anak mama (ah... bukankah boy aways be boy, wkwkwk) tapi dia selalu ada di samping, di belakang dan di depan dalam setiap kesulitan yang kami alami, terutama di awal awal pernikahan kami.
Hmm... haruskah aku menuliskan surat cinta lagi, tapi tapi tapi... suami ini bukan tipe tipe romantis yang biasa menuliskan kata kata cinta berbunga bunga.... bisa pening mungkin kepala dia. Akhirnya akupun memutuskan membuat surat cinta yabg simpel dan pasti dibaca, sebelumnya pernah bikin surat cintaa yang panjaaang... ternyata zonk.. hihi, dianya bingung...😂
Alhamdulillah secarik surat cintaku yang hanya beberapa kata dan satu paragraf mendapat senyum manis dan pelukan hangat... hee.. okay thats all.. I luv u too
Nah satu hal yang paling membuaku berterimakasih kepadanya adalah dia mampu meyakinkan aku untuk menggenggam komitmen yang dulu kami sepakati saat awal awal menikah. Apa? Mendidik anak akan jadi tanggungjawab kami berdua, terutama saya adalah all umm madrasatul ula, maka fokus kami ketika kami sudah memiliki putra adalah mendidik anak. Itulah yang mengantarkan saya resign dari pekerjaan di luar rumah. Meski awalnya berat namun dengan kekehnya suami dan saya sendiri mulai berusaha mendapatkan passive income dari dalam rumah, kami yakin kami bisa. Belum lagi dengan bergabung di kelas IiP bertemu dengan teman teman yang luar biasa.


Menemukan Potensi anak anak kita

Selanjutnya adalah melihat lekat anak anak kita yang sangat luar biasa. Ya,,, setiap anak terlahir hebat, kitalah orang tuanya yang harus memantaskan diri , agar layak mendampingi mereka (Institut Ibu Profesional Quotes) Nah, karena usia Sofia baru 1 tahun kami memutuskan dalam menggali dan menemukan potensi nya adalah dengan membuat Jurnal kegiatan yang akan kami lakukan bersama sama. Dengan banyak nya main bareng, ngobrol bareng, beraktifitas bareng sebanyak banyaknya semoga kami dapat melahirkan dan menumbuhkan fitrah sofia. Nah, sebelumnya saya dan suami sepakat bahwa kami akan mendidik anak anak kami sesuai dengan fitrahnya (semoga Allah memudahkan),
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurusnkepda agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada erubahan pada fitrah Allah, (itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya” (QSAr Ruum (30) : 30)
Fitrah yang ingin ditumbuhkan Aktivitas yang akan dilakukan
Fitrah Keimanan.
Setiap anak lahir dalam keadaan telah terinstal fitrah keimanan. Ini meliputi moral, spiritual, keagamaan dst. Golden age fitrah ini ada pada 0-6 tahun. Pada fitrah ini dicapai peran menyeru kepada tauhid dan menyempurnakna semua akhlak.
Atmosfir kesalihan dan keteladanan Memberikan ASI dengan memperkuat fitrah keimanan Imaji positif atau keridhaan kepada Allah dan rasulullah melalui mengenal alam
- Mengunjungi kebun binatang
- Bercerita mengenai ksah tauladan dalam alquran dan para nabi
Fitrah Belajar dan Bernalar.
Setiap anak adalah pembelajar sejati yang tangguh dan hebat.
Ide Yang menantang dan inspirasi hebat Membangkitkan gairah belajar melalui BAHASA IBU
Learning tough living
- Mengunjungi tempat wisata alam
- Mengeksplorasi lingkungan sekitar rumah Belajar bersama ayah bunda

Fitrah Jasmani (Fisik dan Indera) Setiap anak lahirdengan membawa fisik yang suka bergerak aktif dan panca indera yang suka berinteraksi dengan bumi dan kehidupan
Pola Hidup Sehat dan NAtural Merawat dan menguatkan pola jasmani melalui
Pola Makan Yang baik
Pola Tidur yang Baik
Pola Kebersihan yang baik

Fitrah Individualitas dan Sosialitas. Setiap manusia dilahirkan sebagai individu sekaligus sebagai maklhuk sosial. Sosialitas akan tumbuh baik sejak usia 7 tahun, jika individualitas tumbuh utuh sebelum usia 7 tahun. Di bawah 7 tahun anak belum memiliki tanggung jawab
Keseimbangan suplai maskulinitas/ leadership femininitas Merawat dan menguatkan ego dengan memuaskan egosentris:
- Memberi supply ego dari ayah
- Memberi ruang untuk memiliki dan memilih
- Tidak memaksa untuk memgalah atau menyerahkan kepemilikanya
Fitrah Seksualitas dan Cinta.
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan perempuan atau laki laki, tidak ada yang lainnya. Fitrah kelelakian akan berkembang menjadi fitrah keayahan, sedangkan fitrah peremuan akan berkembang menajdi fitrah keibuan.
Attachment dan Ideal Figure Lebih didekatkan dan banyak berinteraksi dengan IBU
Fitrah Estetika dan Bahasa.
Setiap anak memiliki sense of aesthetics rasa keindahan dan menyukai keindahan serta keharmonisan, dsb. Setiap anak juga diberi kemampuan berbahasa sebagai alat ekspresi kemudian diaktualisasi oleh bahasa ibu oleh kedua orangtuanya.
Kebebasan Berekspesi dan Berapresiasi Mengenalkan dan belajar BAHASA IBU dengan sempurna


Selanjutnya adalah menggali kekutan potensi diri sendiri, suami dan membaca kehendakNya mengapa dilahirkan di tengah keluarga anda saat ini dengan bekal potensi yang anda miliki. Hmm... jujur masih harus belajar menemui potensi diri di di tengah keluarga kecil saya ini yang baru terlampaui sekitar dua tahun. Terus menyelami apa sebenanya maksud Allah mempertemukan saya dengan suami saya, kami memiliki latar belakang yang berbeda dari latar belakang budaya yaitu saya Jawa dan suami saya Sunda. Saya orang yang terbiasa berbicara di depan umum dan suami saya justru lebih pandai berbicara secara personal. Saya suka menulis suami saya lebih suka menggambar. Kami berdua memiliki komitmen bahwa pendidikan anak anak kami adalah tanggung jawab kami berdua yang harus diemban utama oleh kami berdua. Padahal kami berdua lahir dari keluarga pendidik, orangtua kami adalah pendidik, tentu saja hal ini mungkin mempengaruhi kami pada saat nantinya mendidik anak anak kami, dan kami harus mengurai innerchild kami agar kami bisa mendampingi dan menumbuhkan fitrah anak anak kami dengan sempurna

Menangkap maksud Allah mengapa dihadirkan dilingkungan ini?.... hmm, lagi dan lagi, harus bertanya pada diri dan merenung. Tinggal di komplek sepertin ini justru saya kepingin memiliki usaha dan bisnis pribadi, karena lingkungan perumahan saya bukan perumahan dimana sangat mudah untuk bertetangga dan bertamu, banyak orangtua yang sangat sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing sehingga saya berkeinginan sekali membuka usaha kuliner atau katering. . Saya juga ingin membuka usaha dibidang fashion, dengan membuat baju baju bayi dan sebagainya dulu saya pernah berkeinginan bekerjasaama dengan para penjahit di desa saya untuk membuat baju bayi dan anak anak kemudian kami pasarkan, aplagi suami pernah menjalani bisnis serupa,saya berharap kami dapat membantu orang lain juga dengan membuka usaha ini. Semoga Allah memudahkan.
Selain itu saya juga melihat di lingkungan tempat tinggal saya belom ada posyandu. Selama ini hanyaaada satu posyandu dan itu jauh sekali serta ikut tetangga desa. Hehe.... Saya sebagai seorang ahli kesehatan masyarakat yang dahulu sering menjadi promotor kesehatan dan juga sering dimintai tolng membantu para kader di tempat tinggal saya maupun dulunya ketika saya masih bekerja, ingin sekali mengadakan posyandu. Apalagi di blok tempat tinggal saya ada banyak anak anak bayi dan balita. Meskipun banyak dari para orangtua untuk kepentingan imunisasi dan sebagainya memilih pergi ke klinik di depan komplek, tapi saya yakin dengan adanya posyandu akan sangat membantu sekali untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita

Demikian NHW kali ini yang berasa mantaap.... masyaallah... terimakasih...