Tampilkan postingan dengan label gamelevel1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gamelevel1. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 April 2019

Berikan Empati Kepada Anak. Bunda yang terbaik Buat Anak

Rabu, April 10, 2019 0 Comments


Selamat Siang....
Assalamualaikum,,,
kembali lagi disini yuk bunda, masih berbincang mengenai komunikasi produktif dengan orang orang yang kita cintai. 
Nah, kali ini saya mau berbagi cerita sedikit nih ya bunsay....
Tadi pagi saya dan sofia mencoba beberapa materi  baru dari kurikulum home schooling yaitu meronce kancing,
nhaaa entah kenapa yaa... apa memang sofia yang udah bosen (karena dia memang bosenan) dan fokusnya blom terlalu lama juga akhirnya dia ngembek....

hihi, dan karena saya lagi fokus bikin foto akhrnya sayapun tanpa sadar, setengah sadar maksud saya, saya bilang ke Sofia
"kenapa teh? capek? masak gitu aja capek"
Sofia dengan lucunya cuman ngeliatin saya sambil mengacak acak kancing mainannya
"Apa teteh ga bisa masukin? kemarin kan bisa, ayo coba lagi...."
Bukannya malah menurut dia malah berdiri, nyelonong pergi dan mengambil sepedanya, mainan sepeda
hahaa....
Sekilas saya diam saja, dalam hati saya berfikir dia mungkin capek atau bosan.
Setelah saya selesai dengan pekerjaan saya, saya baru mulai berfikir bahwa saya sering lho selama ini bilang hal hal seperti itu
"Masak sih, begini aja ga bisa"
"Eeeh...masak sudah capek?'
"Masak...dan masak... dan masak...."
Hmmm....  berdasarkan prinsip  komunikasi produktif ini ga banget ya bunda....
Kenapa?
Coba deh ambil di posisi bunda, kalau bunda yang menerima kata kata tersebut, gimana perasaan bunda?
pasti ada kecenderungan merasa tidak diterima, atau merasa tidak terima, dan akhirnya down... setelah usaha yang kita lakukan dan kita merasa capek atau lelah, trus ada yang bilang "masak gitu aja lelah...."
Hla tanpa sadar dalam hati kita sering membalas
"coba deh kamu jadi aku!",
Ini nih yang saya rasain banget.... 
Banyak kadang orang hamil seperti saya, apalagi hamil sudah 9 bulan, trus rasanya melakukan sesuatu kok kayaknya udah beraaat aja, cuci piring biasanya tahan 10 menit berdiri di depan wastafel, sekarang ga sampe lima menit pengen sambil duduk. Nah gitu kalo misalkan, hanya misalkan, ada nih orang nyinyir  masak gitu aja capek " dalam hati nih mungkin langsung pengen protes keras, atau senggol bacok...huahauauaha

SAMA, anak anak kita pun demikian, meskipun mereka masih kecil namun mereka akan merasa kapan usaha mereka di hargai atau tidak.
Memang sih, pada saat kita bilang, “Ah, masak sih gitu aja capek” maksud hati adalah kita memberikan dia motivasi agar dia mau meneruskan aktifitasnya.
“Ah, masa gitu aja ga bisa sih?” maksud hati agar dia mau berusaha lagi lebih baik
Namun penerimaan yang terjadi pada anak anak tentu berbeda ya..... mereka akan cenderung merasa disalahkan, bukan di pahami, bahkan percakapan selanjutnya akan berujung seakan akan kita mengkonfrontasi anak.
Sementara anak anak membutuhkan kita sebagai orang tua yang memberikan empati, motivasi bukan konfrontasi.
Nah, apa sih yang dimaskud empati? Empati adalah menempatkan diri pada posisi yang dirasakan orang lain
Dr. Bruce D. Perry M.D Ph.D seorang anggota senior di Child Trauma Academy mengatakan, “Empati bisa jadi merupakan anugerah yang paling bermutu bagi ras manusia. Kita tidak akan bisa bertahan hidup tanpa menciptakan hubungan dan kelompok yang bisa berfungsi secara bersamaan.”
Christine Carter, Ph.D seorang pakar Sosiologi dan Kebahagiaan di Universitas California menambahkan, “Empati adalah cara kita mengembangkan perasaan bersyukur, harapan, dan juga kepedulian. Yang merupakan kemampuan berdasarkan empati.”
Salah satu studi di Universitas California menemukan bahwa, anak usia 18 bulan sudah bisa menguasai komponen kunci dari empati, yakni kemampuan memahami perasaan orang lain.
Nah, kan berarti di suia Sofia pun dia sudah merasakan empati itu sendiri. Sekalipun dia tidak paham bagaimana menyampaikan empati tersebut.
Dengan kita mulai memberikan empati kepada anak kita, maka anak kita juga akan tertular spirit empati itu sendiri. Dia akan merasa, diayomi, di kasihani dan dimengerti, selanjutnya dia juga akan melakukan hal yang sama kepada orang lain. Sangat menarik bukaan...???

Kita kembali kepada case saya tadi ya bunda sayang, mengenai kebiasaan saya terhadap Sofia yang yaaa bilang masak sih, masak dan masak?
Sebaiknya pola kalimat yang saya gunakan adalah...
“teteh kenapa berhenti mainannya/ belajarnya?”
“ teteh capek? “
Kalau Sofia mengangguk atau menunjukkan respon iya, maka saya bisa meneruskan (kaidah komunikasi KISS, bukan kalimat majemuk ya bunda sayang”
“mau istirahat dulu?” atau
 “ganti mainan lain?” atau
“teteh mau apa?”

Kemudian kalau misalkan dia tidak bisa atau terkendala dalam mengerjakan sesuatu, yang harus saya katakan selain empati adalah memberikan motivasi. Kenapa? Karena anak anak ini selain diberikan empati, juga membutuhkan dorongan dari kita.
Misalkan dia tidak bisa memasukkan kancing baju dalam tali roncenya
“okay, ga papa...kita coba lagi”
“Teteh bisa....”
“teteh capek? Okay lain kali ya kita coba lagi....”
“Hari ini teteh bagus banget meroncenya, besuk lagi ya....”

Author. 2018. Menanamkan empati pada anak sejak dini. The Asian Parent .https://id.theasianparent.com/menanamkan-empati-pada-anak-sejak-dini
Materi Kuliah Bunda Sayang Batch #5. 2019. Komunikasi Produktif. Institut.Ibu Profesional

#hari14
#gamelevel1
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu. profesionala




Sabtu, 06 April 2019

I Responsible For My Communicaton Result

Sabtu, April 06, 2019 0 Comments

Assalamualaikum bunda....
Kita selesai dengan komunikasi produktif pada anak ya...
yuuk kita kembali membahas mengenai komunikasi denhan pasangan.
Dalam komunikasi dengan pasangan kita kita peelu menyadari beberapa hal ya...
Yang pertama, komunikasi dengan orang dewasa, berarti komunikasi yang terjadi pada dua individu berbeda, dan kita harus bisa menerima perbedaan tersebut.
Selanjutnya komunikasi antara dua orang dewasa berpijak pada nalar. Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak anak atau orang yang sudah tua.
Daaan karena kita sama sama sudah dewasa maka kita harus dan wajib bertanggung jawab pada hasil komunikasi kita. Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pembei pesan. Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya. Kita juga harus senantiasa  memperhatikan respon si penerima pesan dari waktu ke waktu sehingga kita dapat mengubah strategi dan cara komunikasi bila diperlukan.

Komunikasi yang produktif biasanya memiliki tujuan untuk memudahkan orang lain dalam memahami pesan yang disampaikan oleh seorang pemberi pesan (komunikator). Selain itu, komunikasi yang efektif juga bertujuan supaya informasi yang disampaikan dapat menimbulkan feedback dari si penerima pesan (komunikan). Karena alasan-alasan tersebut, maka proses komunikasi yang efektif haruslah dilakukan dengan menggunakan bahasa yang jelas dan dapat dipahami oleh orang lain.
Menurut Mc. Crosky Larson dan Knapp, komunikasi yang efektif dapat dicapai dengan mengusahakan ketepatan (accuracy) yang paling tinggi derajatnya antara komunikator dan komunikan dalam proses komunikasi. Komunikasi yang produktif hanya dapat terjadi jika komunikator dan komunikan memiliki persamaan dalam pengertian, sikap dan bahasa. 

Sebuah komunikasi dikatakan efektif apabila:
  1. Pesan dapat diterima dan dimengerti serta dipahami sebagaimana yang dimaksud oleh pengirimnya.
  2. Pesan yang disampaikan oleh pengirim dapat disetujui oleh penerima dan ditindaklanjuti dengan perbuatan yang diminati oleh pengirim.
  3. Tidak ada hambatan yang berarti untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan untuk menindaklanjuti pesan yang dikirim.

Hasil dari komunikasi akan menimbulkan suatu efek. 
Efek komunikasi dapat beraneka macam dan dapat dilihat dalam tiga kategori:
a. Personal opinion
Personal opinion adalah sikap dan pendapat seseorang pada suatu masalah tertentu
b. Publik opinion
Public opinion merupakan penilaian sosial mengenai suatu hal berdasarkan proses pertukaran pikiran.
c. Majority opinion
Majority opinion dapat dipahami sebagai pendapat yang disetujui oleh sebagian besar publik atau masyarakat.


Nah, baiqlaaah...bunsay, setelah kita paham dari pemaparan di atas tinggal praktiknya kan ya.... bagaimana kita mempraktikan komunikasi ini dalam kehidupan kita sehari hari. Jangan lupa, bahwasannya kita dengan pasangan kita adalah dua individu yang berbeda, yang dibesarkan engan cara berbeda, budaya berbeda, kebiasaan yang berbeda, sehingga kita harus terus menyesuaikan bagaimana cara komunikasi kita, strategi komunikasi kita, agar pasangan kita mengerti dan tidak salah paham dengan apa yang kita sampaikan.
Saya dan suami lebih sering dan hampir selalu menggunakan bahasa Indonesia untuk komunikasi sehari hari, hal ini untuk menghindari terjadinya miss komunikasi diantara kita. walaupun suami saya telah bertahun tahun tinggal di Surabaya, da paham sedikit banyak bahasa Suroboyoan, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa apa yang saya sampaikan bisa berbeda dan disalah artikan dalam kepalanya.
Contoh sederhana begini: (ini hanya masalah kata dengan konsonan K)
"Ada di kotak yang mana?" (saat itu saya sedang mencari barang yang biasanya di tempatkan d kotak kotak penyimpanan) sementara kami baru saja berbincang mengenai saudara yang sudah lama sekali putus komunikasinya
jadilah suami menjawab
"iya sekarang ga lagi di bandung (kota bandung, maksudnya) tapi ke tasik)
Dari situlah, saya menyadari bahwa pengucapan konsonan K saja memiliki cara yang berbeda beda,,, dan terkadang lucu jika kami tidak bisa menyikapi percakapan dengan cara dewasa.... hahahaa...pasti banyak miss nya.


Sumber Referensi:
Author.2016. Unsur Unsur Komunikasi.ciputrauceo.net/blog/2016/2/18/unsur-unsur-komunikasi-efektif
Materi kuliah bunda sayang batch #5. 2019. komunikasi Produktif. Institut Ibu Profesional

#hari10
#gamelevel1
#tantangan10hari
#kuliahbundasayang
@indtitut.ibu.profesional



Senin, 01 April 2019

Intensity of Eye Contact (Komunikasi Produktif)

Senin, April 01, 2019 0 Comments


Assalamualaikum....masih tetap semangat kan bunda sayang.... ? hari ini senja hari nih nyapanya... sudah pada selesaiin tugas domestik kah? yuk, sambil santai santai kita bahas lagi mengenai komunikasi produktif. review dlu yaa...  Kemaren kita ngobrolin  soal kiss pada komunikasi dengan anak (bisa baca di Keep it Short and Simpel), metode clear n Clarify pada pasangan, serta kaidah 7-38-55 yang bisa diterapkan pada pasangan maupun pada anak (buat yang kepo, bisa baca pada postingan sebelumnya ya bund....)
Nah, pada kesempatan kali ini kita akan membahas lebih dalam mengenai intensity of eye contact, salah satu metode komunikasi produktif yang tidak kalah penting dan masih bertalian erat dengan metode yang kemarin kita bahas, terutama dalam kaidah 7-38-55. Kontak mata ini berkaitan erat dengan bahasa tubuh yang menunjang 55% dalam komunikasi.

Nah, kalau orang bilang mata adalah jendela hati.... yuhuuu itu bener banget, kok bisa sih? di sini ada beberapa alasan setidaknya mengapa mata bisa dikatakan sebagai jendela hati. Yuuuk kita kupas satu per satu yaaa....

Trust
Kontak mata berperan besar dalam membangun rasa kepercayaan. Dengan menatap mata lawan bicara kita, misalkan pasangan kita, ia akan merasa lebih nyaman dan terbuka dalam berkomunikasi. Anggap saja kita berkata, “hei, kamu bisa percaya kok ama aku!"

Respect
Dalam beberapa kultur dan budaya, kontak mata adalah cara untuk mendapatkan respect dari seseorang. Seperti berbincang pada bos, pada orang tua, atau sesama teman. Kontak mata membuktikan bahwa kita menganggap orang itu penting.Begitu pua dengan pasangan kita atau anak anak kita, jika kita berbicara dengan mereka tanpa bertatapan mata dengan mereka, maka dapat dibayangkan bagaimana perasaan kita, seperti ada yang kurang bukan? atau seras tidak dihargai? hihi...lebay deh ya....

Menunjukkan ketertarikan
Untuk mengetahui apakah seseorang menyukai atau tertarik untuk berbicara dengan kita, bisa dilihat dari kontak mata saat berbicara. Bila mereka cenderung melihat ke arah lain, tandanya mereka sedang tidak tertarik. Tetapi, bila mereka menatap mata kita, berarti mereka tertarik dengan topik pembicaraannya.

Emotion/ Ekspresi
Kita dapat menebak emosi seseorang dari tatapan mata saja. Sedih, senang, atau marah, semuanya bisa dibaca dari mata. Maka, ketika kita menghargai seseorang di tengah berbincang, ia pun akan merasakan hal yang sama pada kit. Tanpa berkata “terima kasih”, kita dapat memberikan apresiasi yang tulus.hanya dengan tatapan mata, ga percaya? silakan deh dicoba. saya sudah mencoba hehe

Good Listener
Ugh, menyebalkan bukan jika kita sedang bercerita, dan lawan bicara malah memainkan handphone dan membalas chat orang lain. bisa ngamuk kali ya kalo itu terjadi pada pasangan kita. 9tapi malah biasanya ditinggal main game, tul nggak?) 
Dengan memberikan kontak mata, hal ini tidak akan terjadi. Justru, ia akan menganggap kita sebagai pendengar yang baik karena kita fokus pada tiap perkataannya. Mendengarkan seseorang tidak menggunakan telinga saja lho, dear.

Building Friendship
Setelah mendapatkan kepercayaan dan respect dari sang lawan bicara, tentu akan ada sebuah pertemanan yang terjalin. Kontak mata menunjukan apakah kita seseorang yang friendly, warm, canggung, atau sombong. Dengan membiarkan mata kita bertemu dengan orang di seberang, artinya kita membuka diri. 

Menjaga Feed Back
Komunikasi yang efektif akan menghasilkan umpan balik yang baik pula. Kontak mata berperan penting dalam komunikasi tatap muka. Kontak mata memiliki berbagai macam fungsi, salah satunya menjaga umpan balik. Ketika seseorang berbicara dengan orang lain kontak mata menjadi bermakna bahwa orang yang berbicara memilik rasa keseriusan untuk mendapatkan umpan balik dari pendengarnya, sehingga komunikasi tetap berjalan dan umpan balik tetap terjaga keutuhannya. (Baca juga.

Dari uraian di atas kita jadi tahu betapa pentingnya kontak mata dalam menjaga komunikasi kita baik dengan anak maupun dengan pasangan.
Selama tantangan 10 hari ini saya mengikutsertakan indikator ini dalam membangun komunikasi produktif baik kepada pasangan maupun kepada anak. 

  • Kepada pasangan, Sebenarnya untuk komunikasi dengan pasangan sudah menjadi hal yang lumrah untuk bertatap mata, terutama karena dengan tatap mata ini kita akan memiliki trust, perasaan dimengerti, dihargai dan seterusnya kepada pasangan. Namun pernah gak sih bundsay, terkadang kita tanpa sadar bicara sambil lalu dengan pasangan. Misalnya nih


    • pas saya di dapur, sibuk nyiapin sarapan, trus tetiba suami nyletuk
"yang, tahu nggak kemaren aku naroh kanebo dimana? biasanya sih begitu pagi pagi, ribut cari kanebo buat ngelap motor/mobil....hahha, sementara sy dalam hati jengkel juga, yang nyimpan siapa trus nanyanya ke siapa... hahaha)., 
sayanya yang lagi asik bikin sarapan atau lagi ribet sama sofia paling sambil lalu aja jawab, " kayaknya di rak sepatu paling bawah"
beberapa saat suami nanya lagi "iya, biasanya kan ya, tapi ini nggak ada kok", nah lho....
baru akhirnya saya angkat muka
"masak sih....? (sambil menatap gak percaya, entah kenapa natap muka suami keinget langsung klo sofia mainin kanebo itu kemaren sore"
" oh iya, dimainin sama sofia, kayaknya tatruh ember di bawah keran air depan deh!"

    •  misalkan lagi saya dan pasangan mau ngobrolin hal yang penting, saya biasanya lebih menekankan poin "penting" ini dengan menatap tajam, setelah pembukaan panggilan "yang...yang..." (terus natap tajam, setajam pisau silet, kwkwkw), trus baru ngomong, "buat lahiran si utun nanti, kita kayaknya masih butuh persiapan ini itu bla bla bla...." nah suami yang tadinya asyik youtuban atau main hape biasanya langsung balik natap, trus nanggapin serius...'iya, bla bla bla....

Akhirnya saya paham juga poin nya kelo menatap mata pasangan itu kita akan merasa lebih paham, respect, pengertian dan fokus juga akan apa yang kita bicarakan dengan pasangan.

  •   Kepada Anak, melakukan kontak mata saat bicara pada anak, bahkan sejak bayi sudah selalu saya lakukan. Selain untuhk mempererat bounding, kontak mata membuat komunikasi saya lebih bisa di terima oleh sofia. Mungkin karena Sofia belom memberikan feedback berupa kata kata yang sedemikian jelas nya, maka sagat penting membuat komunikasi kami nyambung dengan bahasa non verbal. Hanya saja, sekarang ini agak susah saya lakukan, kenapa? karena si cantik, putri saya ini sekarang sedang hobi bergerak, aktifitasnya yang super duper high, duduk dan diam sebetar saja tidak bisa aak membuat saya sulit berbicara dengan menatap matanya. hanya saat saat tertentu saja saat dia menatap saya duluan sambil (biasanya) menunjuk sesuatu saya bisa bicara dengan menatap matanya. 
Bagaimana nih dengan bunda sayang disini? tetep semangat yuuuk bangun komunikasi dengan pasangan dan si kecil....
 
 Sumber referensi:
Author2017.7 Fungsi Kontak mata Dalam Komunikasi Non Verbal. https://pakarkomunikasi.com/fungsi-kontak-mata-dalam-komunikasi-non-verbal
 Materi Kuliah Bunda sayang. 2019. Komunikasi Produktif. Institut Ibu profesional

#Hari5
#Gamelevel1
#tantangan10hari
#Komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional


Kamis, 28 Maret 2019

Komunikasi Produktif (Game Level 1 #Day1) Pada Anak

Kamis, Maret 28, 2019 0 Comments

Hai...bunda sayang, kali ini saya akan membahas materi pertama sekaligus memulai Game Level 1, Tantangan 10 Hari di perkuliahan bunda sayang Institut Ibu Profesional. 
Yey.... udah ga sabar kan ya...
Nah, sebelumnya kita ulas sedikit mengenai komunikasi produktif ini.
Apa sih komunikasi produktif itu? kita udah sering banget dengar kan ya? kata kata komunikasi produktif ini berseliweran di sosial media mulai dari perkuliahan on line sampai dengan workhshop. 
Emang penting ya? penting banget....  
Komunikasi merupakan kunci kesuksesan. kesuksesan apapun, dan yang paling penting dalam berumah tangga adalah kesuksesan dalam berumah tangga. 

Komunikasi adalah proses penyampaian pesan/ informasi. Komunikasi dikatakan sukses jika informasi sampai dan diterima dengan benar sehingga komunikasi bersifat produktif. Seringkali yang menjadi masalah adalah pesan tidak tersampaikan dengan baik, sehingga isi dari pesan tersebut gagal dipahami, dan terjadilah salah paham. Hal ini terjadi karena cara penyampain pesan tidak benar. 
Nah mengapa komunikasi produktif dalam berumah tangga penting? Jika komunikasi ayah-ibu dan orangtua-anak terjalin dengan baik, maka visi keluarga akan mudah tercapai dan kebahagiaan dalam rumah tangga terwujud. 

Tantangan terbesar dalam komunikasi itu adalah mengubah pola komunikasi kita sendiri. memahami diri sendiri memang terkadang sulit, bahkan kita terkadang tidak menyadari bahwa komunikasi kita termasuk tidak produktif. Termasuk saya sendiri, saya masih belajar banget bagaimana komunikasi secara gamblang, karena saya orangnya sangat berhati hati dan nggak enakan, istilah jawanya "sungkanan" hehehe.... ujung ujungnya jadi sakit hati sendiri. wkwkwkw.

So, Choose Your Words
  • pilihlah kata kata yang tepat, karena kata kata adalah cerminan diri kita
  • kata kata yang kita gunakan menunjukkan pola pikir kita
  • kata kata yang tepat akan memberikan energi yang besar


Nah, dalam Tantangan 10 hari Game Level 1 ini saya dan pasangan memutuskan untuk melakukan komunikasi produktif kepada anak dan kepada pasangan secara bergantian. mengapa? karena kami berpikir komunikasi produktif harus terjadi baik kepada psangan (suami/istri) maupun kepada anak. Kepada pasangan, saya akui diatara kami berdua memang masih perlu banyak belajar mengenai komunikasi produktif, mungkin salah satunya karena kami berasal dari dunia yang berbeda. 
Yey, Man are from Mars, Woman are from Venus?
Salah satunya begitu, ditambah lagi latar budaya kami yang sangat berbeda. Saya putri jawa asli bahkan dibesarkan dilingkungan adat jawa yang kental (bapak keturunan jogja, dan ibu domisili dekat daerah solo), sementara suami saya juga dibesarkan di lingkungan Sunda yang kental. jadilah kekentalan kita terasa melekat atau justru meluntur ya? wkwkwkwk.

Hari pertama ini, maka saya mengajak Sofia untuk berproses melakukanmelakukan k produktif.
Nah, komunikasi kepada anak saya putuskan menggunakan 7 indikator dari beberapa poin indikator yang ada, yaitu;
1.     Mengendalikan emosi. Memiliki hubungan yang hangat dan harmonis. Pastinya ini latihan terus menerus yaah.... Karena sebagai emak emak kita rawan banget meledak, apalagi klo lagi PMS atau bumil nih yang sekarang sedang saya alami, kalau udah capek...hmmm #senggolbacok...haduuuh 🙈
2.    KISS (Keep Information Short and Simple). Mengatakan dengan singkat dan jelas, sesuai dengan usia Sofia yang baru kurang dari dua tahun, jadi dia hanya memahami dua kata perintah atau larangan
3.    Kendalikan intonasi suara dan menggunakan suara yang ramah. Karena 38% keberhasilan komunikasi diengaruhi dari intonasi suara kita dan 55% dari bahasa tubuh kita. Jika posisi anak lebih rendah maka duduk sejajar dengan anak, jika anak lebih tinggi maka berdirilah dan  dekati saat mau berbicara.
4.    Mengganti kata “Tidak Bisa menjadi “Bisa. Yakni penting sekali menghindari mengulangi kesalahan anak di masa lalu. Apalagi seusia sofia adalah usia belajar dan repitition, diulang ulang, jelas banyak terjadi kesalahan. Maka tugas saya disini adalah fokus pada masa depan, fokus pada perbaikan. Sehingga penting menanamkan kata BISA
5.    Jelas dalam memberikan kritikan dan pujian. Meskipun masih di bawah 2 tahun saya akan melatih komunikasi ini ke anak. Sehingga akan terbiasa nantinya.
6.    Mengatakan apa yang kita inginkan bukan yang tidak kita inginkan. Sering ketika kita emosi tanpa sadar kita mengeluarakan kata kata negatif yang tentu saja kita tidak inginkan.
7.    Menunjukkan empati. Karena bagaimanapun anak uga ingin dihargai, dan diakui keberadaanya. Bukan berarti orang tua selalu benar.

 Hari pertama ini yang bisa saya dapatkan adalah: 
  • Sofia bisa melaksanakan perintah sederhana (KISS), karena memang sudah beberapa saat sebelumnya kami lakukan seperti itu, seperti "Taruh baju kotor” (di keranjang kotor), yang setiap akan mandi dia lakukan. Ambil mainannya atau taruh bukunya (ditempatnya). Terkadang sofia tidak terlalu berkonsentrasi pada apa yg saya ucapkan, jadi harus diulang sekali dua kali, saya mencoba tetap fokus untuk tidak memperpanjang kalimat apa yang saya maksudkan
  • Saya lebih mengendalikan emosi dan intonasi suara, terlebih di kamar mandi. Karena biasanya mandi dengan sofia menguras banyak tenaga, dia berlarian di kamar mandi, sambil bermain air. Saya berusaha mengendalikan emosi dan intonasi suara saat dikamar mandi. Dan memang susah...karena suara air dari selang yang dipakai mandi sofia bergemuruh...😂
  • Saat bermain (menyusun balok, memasukkan mainan ke kotaknya) selalu saya katakan Kakak Bisa dan hari ini dia bisa menyusun mainanya dengan lebih baik, gapake nangis biasanya dikit dikit be klo ndak berhasil nangis, trus prak prok gitu bilang "udah..." Padahal separo aja belom...hihihi
  • Selalu berusaha menunjukkan empati, setiap kali dia berbicara meskipun bahasanya masih babling.Tapi saya merasa dia akan lebih bersemangat lagi berbicara atau menyayi, mungkin... saat saya menunjukkan empati kepadanya... Hehe



Demikian, 5 dari 7 indikator bisa kami lakukan hari ini. semoga hari berikutnya lebih baik, atau bisa istiqomah.....
Semangat bunsay kita pasti bisa.

Sumber Referensi
1) Materi 1 Komunikasi Produktif Kuliah Bunda Sayang Batch #5. 2019.Institut Ibu Profesional
2) Seri Ibu Profesional #1. Bunda Sayang 12 Ilmu Dasar Mendidik Anak. 2017. Surakarta:GazzaMedia

#hari1
#tantangan10hari
#gamelevel1
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional